Dulu, gemuruh bus karyawan memecah sepi Desa Lanut. Kini, keriuhan itu telah menyusut menjadi bisik-bisik warga tentang lahan bekas tambang Blok Lanut yang kembali hijau. Kabar baik itu justru memantik kegelisahan Melly Lengkong (27).
“Katanya sudah ditanami,” kata Melly. “Tapi saya belum pernah lihat sendiri.”
Melly tidak pernah menginjakkan kaki di lahan reklamasi bekas tambang yang hanya berjarak beberapa kilometer dari rumahnya. Perubahan yang ia rasakan justru dari hilangnya penanda waktu. “Sekarang tidak ada lagi. Padahal dulu, jam bisa ditebak dari bus-bus karyawan yang melintas,” kata Melly.
Dari cerita yang beredar, ia tahu di sana ada berbagai jenis buah-buahan yang tumbuh di bawah kanopi hijau. Yang paling membekas di ingatannya adalah Buah Matoa dan Durian.
“Sungguh luar biasa jika suatu hari kami bisa memanen buah Matoa dan Durian di lahan itu,” kata Melly. “Itu buah yang paling disukai orang sini. Matoa juga sering dijadikan oleh-oleh ke Jakarta,” kata Melly.
Namun, bayangan itu membawanya pada pertanyaan yang lebih dalam. “Nanti setelah reklamasi selesai kami dapat apa di sana?” tanyanya. Ia tidak ingin warga hanya mendengar cerita. “Kami tidak ingin asal masuk. Jika ada rencana pemanfaatan, kami siap mengikuti aturan,” kata Melly.

Impiannya, lahan yang telah pulih nantinya dikelola oleh desa, melibatkan warga dalam kepengurusan yang transparan. Dengan begitu “Kebun” di Blok Lanut bisa menjadi aset bersama bukan sekadar cerita.
Hutan muda dan satwa kembali
Di lapangan, klaim penghijauan menemukan datanya. Proses reklamasi oleh PT J Resources Bolaang Mongondow (PT JRBM) mendekati final. Manager EHS PT JRBM Yuzri Gunawan memaparkan capaian teknis: sejak tahun 2020, lahan yang direklamasi 182,07 hektar dengan tingkat penanaman mencapai 99,95 persen.
Tegakan pohon Agathis, yang ditanam bersama Jabon dan Sengon telah membentuk hutan muda dengan kanopi rapat. Pohon buah ditanam tidak hanya untuk panen masa depan, tapi juga untuk ekologis. “Pohon buah ditanam sebagai bagian dari strategi ekologis untuk menarik hewan-hewan kembali,” kata Yuzri.
Strategi itu terbukti, melalui tirai proyektor, Yuzri menunjukkan tanggapan kamera jebak. Di layar, Monyet Hitam (Macaca Nigra) sedang memanjat pohon, ada juga si pemalu Tangkasi (Tarsius Spectrum) yang menatap dengan mata bulatnya yang memantulkan cahaya di gelap malam, dan berbagai jenis burung seperti Elang Alap yang berburu di antara dahan.
“Hewan-hewan yang telah kembali ini kami sebut sebagai kawan. Kehadiran mereka menjadi penanda ekosistem mulai pulih,” kata Yuzri.

Idil Batara, Tenaga Ahli Kontraktor Reklamasi, menambahkan, lebih dari 50.000 tanaman telah ditancapkan dengan teknis khusus. “Kami memilih tanaman yang mudah tumbuh dan cepat memperbaiki struktur tanah,” kata Idil. “Dalam menanam kami menggunakan kompos blok dan serabut kelapa.”
Sementara itu, Presiden Direktur PT J Resources Anang Rizkani Noor mengatakan, perusahaan ingin Blok Lanut menjadi contoh penutupan tambang yang baik. “Pemulihan ekosistem sesuai standar adalah prasyarat. Hasil reklamasi ini akan diperiksa dengan teliti oleh kementerian terkait,” kata Anang.
Setelah itu, kata Anang, lahan tersebut akan diserahkan kepada negara, pada tahun 2027. “Nantinya pemerintah yang akan menentukan peruntukan lahan ini. Apakah untuk hutan, perkebunan atau fungsi lainnya karena lahan ini akan diserahkan kepada pemerintah pusat,” kata Anang.

Harapan di lahan hijau
Penyerahan lahan itulah yang menjadi sumber kegelisahan. Melly khawatir, jika tidak dirancang dari sekarang, ketika lahan resmi diserahkan, warga akan kehilangan akses dalam pengambilan keputusan. Ia dan warga memahami akses tanpa kerangka justru berisiko. Mereka memilih menanti dengan kesabaran, sambil terus menyuarakan keinginan dilibatkan dalam merancang masa depan tempat itu.
Kini, di Blok Lanut, akar pepohonan kian dalam mencengkeram tanah, mengukuhkan kehidupan baru. Di desa, benih kesadaran kolektif juga tumbuh, bahwa masa depan harus ditulis bersama. (*)
















