Sulur-sulur hijau merambat pelan, mendekap tanah yang masih terbuka. Tingginya tak sampai betis orang dewasa, nyaris luput dari pandangan. Tapi, di bekas luka menganga tambang emas Blok Lanut, sejengkal tanah yang diikat oleh tanaman bernama Kacang Asu ini adalah kemenangan kecil.
Pit Riska dan Pit Rasik merupakan pusat denyut produksi emas di Blok Lanut. Aktivitas penambangan membentuk cekungan luas, dalam dan kontur tanah yang buyar. Debu mengepul saat kemarau, jika hujan air menggerus tanah terbuka.
Setelah mesin-mesin terdiam, tibalah tahap pemulihan. Lahan di sekitar pit ditimbun dan dibentuk ulang untuk kehidupan baru. Di situlah Kacang Asu ditanam, dan memulai tugasnya sebagai perintis.
Tanaman legum penutup lahan dengan nama latin Colopogonium mucunoides ini bekerja diam-diam. Ia merambat, menutup permukaan, dan mengikat butiran tanah. Di area pit, Kacang Asu menjadi fondasi hijau sebelum pohon-pohon muda yang telah berjejer tumbuh besar membentangkan tajuk membentuk naungan.

Setiap hari, petugas reklamasi menelusuri area Pit Riska dan Pit Rasik. Mereka menunduk memeriksa sulur yang merambat dan daun yang mulai melebar.
Idil Batara, Tenaga Asli Kontraktor Reklamasi, berhenti di satu hamparan tanaman rendah yang merayap di atas permukaan bekas galian Pit Rasik. Baginya, pertumbuhan Kacang Asu menjadi penanda awal bahwa tanah yang sebelumnya terbuka mulai mampu menopang kehidupan tanaman.
Ia juga menunjuk tebing curam area Pit Riska yang sudah tumbuh sejumlah tanaman di selah-selah batu. “Ini tantangan paling berat. Dengan tali kami memanjat dan menanam tanaman di sela-sela batu,” kata Idil, sambil menunjuk kearah tebing.
Selain itu, Ia memperkenalkan tanaman pionir yang tangguh, satu di antaranya pohon minyak kayu putih. “Kami pilih tanaman yang mudah tumbuh dan cepat memperbaiki lingkungan,” kata Idil. “Kami menggunakan media tanam kompos blok dan serabut kelapa agar pertumbuhan akar stabil.” kata Idil

Berdasarkan dokumen perusahaan PT J Resources Bolaang Mongondow (PT JRBM) yang dipaparkan di lokasi, reklamasi pasca tambang di Blok Lanut telah berjalan sejak 2020, dan diperpanjang hingga 2027. Total area yang telah direklamasi 182,07 hektare.
“Dalam reklamasi kami melibatkan masyarakat mulai dari tahap perencanaan,” kata Yuzri Gunawan, Manager EHS PT JRBM Blok Lanut.
Yuzri menunjukkan penanaman yang lebih beragam. Mulai dari pohon Kelengkeng, Matoa, Duria, Nangka, dan Mangga. Pohon buah ditanam dengan harapan menarik kembali burung dan satwa liar di kawasan yang sebelumnya minim vegetasi. “Hewan pemakan buah akan berdatangan jika ada sumber makanan,” kata Yuzri.

Di area lain, di Blok Lanut, pohon-pohon kayu besar seperti Agathis, pohon endemik Sulawesi yang ditanam ditanam bersama jabon dan sengon, tajuknya telah membetuk kanopi.
Ia juga menunjukkan layout penanaman tanaman legum cover crop. “Tanaman kacang-kacangan ini ditanam untuk pengendali erosi,” kata Yuzri.
Di balik hijau yang mulai merayap, tantangan tetap mengintai. “Saat musim kemarau tentu ada banyak tanaman yang mati. Begitupun musim hujan. Tanaman yang mati didata oleh tim teknis reklamasi, untuk ditanam ulang,” kata Yuzri.
Perlahan, wajah Pit Riska dan Pit Rasik mulai berubah. Hijau muda mulai menutup tanah yang dulu terbuka. Suara burung mulai terdengar, dan lintasan satwa kecil menjadi penanda baru.

Di Blok Lanut, reklamasi bukan sekadar kewajiban menutup lubang bekas tambang. Ia menuntut komitmen merawat dan mengawasi agar vegetasi yang ditanam hari ini bisa bertahan.
Kuncinya ada pada waktu dan keseriusan. Pada sulur Kacang Asu yang merambat hening, pada tangan-tangan yang tak lelah, dan pada kesabaran yang memahami bahwa menyembuhkan luka bumi tidak bisa terburu-buru. (*)
















